Jambi, lugasline.com- Dinamika politik di lingkungan Pemerintah Kota Jambi kembali menjadi sorotan. Hubungan antara mantan Wali Kota Jambi dua periode, Syarif Fasha, dengan Wali Kota Jambi saat ini, dr Maulana, dinilai mulai memasuki fase “perang dingin” yang semakin terlihat ke ruang publik (22/06/2026).
Situasi tersebut mencuat setelah Fasha melontarkan kritik terhadap sejumlah kebijakan baru yang diterapkan Pemerintah Kota Jambi, khususnya terkait perubahan sistem pengelolaan sampah yang diikuti penutupan sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Fasha mengingatkan bahwa setiap pemimpin memang memiliki keinginan menciptakan program baru dan meninggalkan warisan kebijakan atau legacy. Namun, menurutnya, perubahan tidak boleh dilakukan dengan membongkar sistem lama yang telah berjalan tanpa persiapan matang.
“Sebagian besar pemimpin di Indonesia ingin punya legacy baru. Tetapi jangan sampai program lama yang sudah berjalan dihancurkan terlebih dahulu sebelum ada sistem pengganti yang benar-benar siap,” ujar Fasha.
Pernyataan tersebut dinilai publik sebagai kritik langsung terhadap arah kebijakan Maulana yang tengah melakukan berbagai perubahan program di Kota Jambi.
Di sisi lain, Maulana justru menunjukkan sikap tegas terhadap jajarannya. Dalam apel pagi di Balaikota Jambi, ia mengaku kecewa karena masih menemukan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dinilai tidak mendukung visi dan misi pemerintahannya secara maksimal.
Maulana bahkan mengancam akan melakukan evaluasi objektif terhadap pejabat yang berkinerja buruk, termasuk pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) hingga demosi jabatan bagi kepala OPD yang tidak mampu menjalankan program pemerintah.
Menurut pengamat, pernyataan Maulana tersebut dapat dibaca sebagai sinyal kuat untuk merapikan birokrasi yang sebagian besar merupakan warisan pemerintahan sebelumnya.
Selama 1,3 tahun memimpin Kota Jambi, Maulana mengaku masih menemukan program dan pola kerja yang tidak sejalan dengan arah pembangunan yang sedang dijalankannya.
Sementara itu, kritik Fasha terhadap sejumlah kebijakan baru dan langkah Maulana yang mulai melakukan evaluasi terhadap OPD memunculkan persepsi adanya perbedaan pandangan dalam membangun Kota Jambi.
Meski belum pernah terjadi konfrontasi secara langsung, saling lempar pesan melalui pernyataan publik membuat hubungan kedua tokoh politik tersebut menjadi perhatian masyarakat.
Sebagai mantan wali kota yang memimpin selama dua periode dan kini menjabat anggota DPR RI, Fasha masih memiliki pengaruh politik yang kuat di Kota Jambi. Sedangkan Maulana sebagai wali kota aktif tengah berupaya membangun identitas kepemimpinannya sendiri melalui berbagai program prioritas.
Perbedaan cara pandang terhadap kebijakan publik inilah yang dinilai menjadi pemicu munculnya “perang dingin” politik antara dua tokoh yang sama-sama memiliki basis pendukung di Kota Jambi.
Publik kini menunggu apakah dinamika tersebut akan berujung pada komunikasi yang lebih terbuka demi kepentingan masyarakat, atau justru semakin mempertegas perbedaan arah antara pemerintahan lama dan pemerintahan yang sedang berjalan. (sal)






