Abu Hasan, Putra Kerinci yang Mengukir Sejarah di NU: Pernah Bertarung Dengan Gus Dur, Lalu Memilih Jalan Persatuan

Kerinci, lugasline.com – Di Kota Sungai Penuh, Kerinci, Provinsi Jambi, pada 19 Juli 1934, lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan H. Abdul Aziz dan Hj. Djamaliah. Anak itu diberi nama Abu Hasan. Tak banyak yang menyangka, putra dari daerah di kaki Gunung Kerinci itu kelak akan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia (11/07/2026).

Abu Hasan tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai kerja keras dan pendidikan. Kariernya dimulai sebagai guru SMA di kampung halamannya. Semangatnya menuntut ilmu kemudian membawanya ke Amerika Serikat. Di sana, ia menyelesaikan studi dan meraih gelar Master of Public Administration (M.P.A.) dari University of Pittsburgh.

Sekembalinya ke Indonesia, Abu Hasan mengabdikan diri di berbagai bidang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Sekretariat Daerah Provinsi Jambi, kemudian berkecimpung sebagai kontraktor dan konsultan perusahaan. Di tengah aktivitas profesionalnya, ia tetap aktif sebagai warga Nahdlatul Ulama yang menjunjung tinggi tradisi keislaman, nilai kebangsaan, dan semangat persatuan.

Tahun 1994 menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Pada Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Abu Hasan mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lawannya adalah tokoh karismatik NU, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Pemungutan suara berlangsung sengit. Hasil akhirnya sangat tipis. Abu Hasan kalah dengan selisih sekitar 30 suara. Kekalahan itu kemudian memicu dinamika internal yang cukup tajam. Abu Hasan bersama para pendukungnya membentuk kepengurusan PBNU tandingan sehingga memunculkan dualisme yang sempat menjadi perhatian nasional dan membuat warga NU terbelah.

Perselisihan itu tidak berlangsung selamanya. Pada Februari 1997, Gus Dur datang langsung ke kediaman Abu Hasan di Cilandak, Jakarta Selatan. Pertemuan tersebut menjadi momen bersejarah. Keduanya saling berjabat tangan, berpelukan, dan saling memaafkan setelah bertahun-tahun berada di kubu yang berbeda.

Dalam sebuah wawancara, Abu Hasan mengatakan, “Pak Kiai Gus Dur dengan saya sudah bisa bermaaf-maafan. Silaturahmi ini sangat penting bagi masa depan NU. Bersatu itu lebih benar daripada berselisih.”

Sebagai bentuk kesungguhan untuk mengakhiri konflik, Abu Hasan mencabut berbagai pengaduan hukum yang pernah diajukannya terhadap Gus Dur. Namun ia juga menegaskan bahwa rekonsiliasi pribadi berbeda dengan penyelesaian persoalan organisasi yang tetap harus dibahas melalui mekanisme yang baik.

Sepanjang hidupnya, Abu Hasan dikenal sebagai pribadi yang moderat. Ia mendukung Pancasila sebagai dasar negara, menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama, serta menolak penggunaan kekerasan atas nama agama. Baginya, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam dan menjadi perekat persatuan bangsa.

Kisah Abu Hasan menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kemenangan dalam sebuah pemilihan, melainkan keberanian untuk mengutamakan persatuan ketika perbedaan telah membawa perpecahan.

Meski pernah berada di tengah konflik besar dalam tubuh Nahdlatul Ulama, ia akhirnya memilih jalan rekonsiliasi demi menjaga keutuhan organisasi dan bangsa.

Abu Hasan M.P.A. dikenang sebagai guru, birokrat, intelektual, serta tokoh NU asal Kerinci yang memberikan warna penting dalam sejarah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Namanya mungkin tidak sepopuler Gus Dur di kalangan generasi muda, tetapi jejak pengabdiannya tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dan sejarah Indonesia. (tim)