Kapabilitas Finansial dan Digital Tingkatkan Pendapatan UMKM 25 Persen

Jakarta lugasline.com-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran vital, namun menghadapi tantangan dalam transformasi digital dan ketahanan finansial. Diskusi panel di Jakarta membahas isu ini, menekankan bahwa solusi utamanya adalah integrasi data dan peningkatan literasi digital.

Masalah Data dan Pembukuan
Deputi Usaha Kecil Kementerian Koperasi dan UKM, Temmy Satya Permana, mengidentifikasi masalah mendasar yang menghambat pertumbuhan UMKM adalah lemahnya data dan pencatatan. Pemerintah memprioritaskan program Satu Data UMKM agar kebijakan pemberdayaan dan akses pembiayaan lebih tepat sasaran. Temmy menegaskan bahwa pembukuan yang tidak rapi menjadi kendala utama UMKM untuk mengakses modal dari lembaga formal.
“Kita ingin data UMKM terintegrasi agar intervensi bisa lebih tepat. Masalah terbesar masih pada pembukuan yang tidak rapi, terutama bagi UMKM perempuan,” ujar Temmy.

Hadapi Kendala Literasi Finansial

Isu ini signifikan mengingat 60 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, yang mayoritas masih menghadapi kendala literasi finansial dasar, berdasarkan catatan KemenPPPA.

Dampak Kapabilitas Finansial dan Digital
Elwyn Panggabean dari Women’s World Banking (WWB) memaparkan hasil riset global yang menunjukkan dampak positif inklusi keuangan terhadap profitabilitas usaha. Kepemilikan rekening tidak cukup; UMKM harus aktif menggunakan layanan keuangan digital.

“Riset global kami menunjukkan bahwa peningkatan kapabilitas finansial dan digital dapat meningkatkan pendapatan UMKM perempuan hingga 20-25 persen. Penggunaan layanan keuangan yang tepat membuat pencatatan lebih tertib dan keputusan usaha lebih akurat,” ungkap Elwyn.
Teknologi digital menjadi “game changer” yang memungkinkan pelaku UMKM, terutama perempuan, menjalankan bisnis secara efisien dari rumah, menekan biaya operasional seperti sewa toko fisik.

Akses Pembiayaan dan Suku Bunga
Wakil Direktur Utama SeaBank, Junedy Liu, menyoroti bahwa stabilnya suku bunga acuan BI belum berdampak signifikan pada kenaikan permintaan kredit UMKM. Menurutnya, minat pembiayaan UMKM lebih di dorong oleh kenaikan permintaan pasar, bukan semata perubahan bunga.

Digitalisasi di nilai sebagai faktor utama yang justru memperluas akses pembiayaan. Dengan ekosistem digital, data transaksi UMKM dapat diolah untuk analisis kredit yang lebih cepat dan efisien.

“Digitalisasi memungkinkan bank mengakses histori data UMKM dengan mudah. Dengan efisiensi itu, biaya layanan bisa ditekan dan manfaatnya dirasakan UMKM dan retail di seluruh Indonesia,” tambahnya.
SeaBank, yang terintegrasi dengan ekosistem Shopee, juga menyesuaikan pembiayaan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan modal kerja selama pola musiman seperti kampanye belanja 10.10, 11.11, dan 12.12.