Jakarta, lugasline.com-Di balik indahnya panorama Danau Como, Italia, tersimpan salah satu kisah kebangkitan paling inspiratif dalam dunia sepak bola. Como 1907, klub yang berdiri pada 25 Mei 1907, pernah mengalami masa-masa kelam akibat kebangkrutan hingga dua kali. Kini, klub tersebut menjelma menjadi simbol kebangkitan dan salah satu proyek sepak bola paling ambisius di Serie A (08/07/2026).
Perjalanan Como tidak pernah mudah. Setelah beberapa kali tampil di kasta tertinggi sepak bola Italia, performa klub terus menurun hingga akhirnya dihantam krisis finansial. Pada 2004, Como dinyatakan bangkrut dan terpaksa memulai kembali dari Serie D, kasta amatir sepak bola Italia. Harapan sempat muncul, namun pada 2016 mereka kembali mengalami kebangkrutan sehingga harus membangun ulang klub dari titik nol.
Titik balik terjadi pada 2019 ketika Como diakuisisi oleh Hartono Bersaudara asal Indonesia melalui Djarum Group. Kehadiran pemilik baru membawa perubahan besar, mulai dari pembenahan struktur manajemen, investasi jangka panjang, peningkatan fasilitas, hingga perekrutan pemain dan staf berkualitas. Langkah-langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam kebangkitan Como dalam beberapa musim berikutnya.
Nama Cesc Fàbregas kemudian menjadi bagian penting dari proyek ini. Mantan gelandang Arsenal F.C., FC Barcelona, Chelsea F.C., dan Timnas Spanyol tersebut bergabung sebagai pemain pada 2022. Setelah pensiun, ia beralih ke kursi pelatih dan menjadi salah satu sosok kunci dalam perjalanan Como kembali ke Serie A pada 2024, mengakhiri penantian selama 21 tahun untuk tampil lagi di kasta tertinggi sepak bola Italia.
Kebangkitan Como tidak hanya tercermin dari hasil di lapangan. Klub yang pernah berada di ambang kehancuran kini dikenal sebagai salah satu proyek sepak bola paling menarik di Italia. Dengan filosofi permainan modern, investasi yang terukur, serta visi jangka panjang dari pemilik dan manajemen, Como berhasil mengubah citranya dari klub yang terlupakan menjadi tim yang mampu bersaing dan menarik perhatian dunia sepak bola.
Presiden Como, Mirwan Suwarso, pernah menegaskan visi tersebut:
“Kami berinvestasi untuk membangun fondasi klub, bukan sekadar bertahan di Serie A. Prioritas kami adalah menciptakan klub yang berkelanjutan, tidak hanya bergantung pada hasil di lapangan.” Ujar nya
Kisah Como 1907 menjadi bukti bahwa kebangkrutan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kepemimpinan yang tepat, strategi yang jelas, serta kesabaran dalam membangun fondasi, klub yang sempat terpuruk kini kembali berdiri di panggung tertinggi sepak bola Italia. Perjalanan mereka juga menunjukkan bagaimana visi jangka panjang mampu mengubah sebuah klub dari simbol keterpurukan menjadi salah satu kekuatan baru yang patut diperhitungkan di Serie A.(fad)






